Sebuah Karya
Kau boleh katakan aku pencinta puisi
Karena itulah yang kurasa
Tapi, kau jangan heran saat puisiku tak begitu bagus
Atau kau sulit memahami kandungannya
Sebab, itulah puisi
Tulisan yang bebas, Ungkapan dikala senang atau kecewa
Karangan yang kita buat, kapan saja dimana saja
Yang tak harus berisi
Tak mesti diacungkan jempol para pembaca
Yang penting kita mau menuliskannya
Puisi itu menakjubkan..
Tanpanya aku bagai air yang disumbat
Karena puisilah tempatku mengalirkan hal-hal yang hebat
Tanpa puisi, aku adalah seseorang yang kehilangan arah
Sebab puisi jalan agar aku tak hilang arah
Tanpa puisi, aku seperti kaca yang terpecah belah
Karena puisilah tempat aku bercermin dari semua hal yang buruk & indah
rizalihadi membalas:
Puisi itu: diri!!!
Mei 2, 2009 at 2:49 am. Permalink.
sunarnosahlan membalas:
mari saling mengunjungi puisi
Mei 3, 2009 at 1:14 am. Permalink.
diladila membalas:
bener,, ayo semua bikin puisi.. ga usah mikirin hasinnya, yang penting niat kita!
Mei 3, 2009 at 1:42 am. Permalink.
kusekolah membalas:
Kepada Sajakku
Karya Ook Nugroho
Sajak-sajakku
Kini kau mengerti
Tak ada tempat
Buat kita di dunia
Yang sempit akal ini
Lihat, mereka
Menggiring kita
Terus ke ujung itu
Mencari kesempatan
Menghapus jejak
Kita di bumi
Mereka keliru, bukan
Sajak-sajakku?
Mereka salah
Menakar peluang
Mereka sangka
Dengan menembak
Kita seperti anjing
Atau membantai baris
Dan menjagal judul
Kita bakal segera
Lumat lamat
Bodohnya mereka
Orang-orang yang sempit pikir
Mereka kira
Kita semacam
Boneka molek
Tersusun dari
Tulang belulang mimpi
Yang mengigau malam
Mengetuk pepintu
Kubur dan rembulan
Mereka sungguh
Tak paham, sajakku
Betapa kita
Kau dan aku
Lebih liat dari khianat
Bahkan lebih
Keramat ketimbang
Hari kiamat
Batapa lucunya
Tak pernah ada cerita
Sajak yang tertembak
Pun jika mereka
Pilih cara berbeda
Yang lebih biadab
Tak ada sajak
Bisa dibunuh
Besok pagi
Atau kapan pun
Tak akan mereka
Temukan bangkai kita
Membusuk di sini
atau di mana saja
Sebab saat itu kita
Telah bertolak lagi
Mengarungi bumi
Kita sungguh paham
Batapa kita senantiasa
Hadir, dan tiada perlukan
Dendang syair
Tangan-tangan
Yang tak kelihatan
Akan menuliskan
Baris-barismu
Pada dinding hujan
Ah, bahkan pada
Bebal akal
Para seteru itu
Kita akan terus
Tumbuh dan Hidup
Mercuni seluruh waktu
Dan musim mereka
Kita giring mereka
Ke ujung yang paling
Di puncak kata
Telah kita siapkan
Kematian yang indah
Lelancip judul
Yang mereka kira
Aman terkubur
Balik menikam
Lunak lelambung
Tiada nyeri tapi
Pun darah bersimbah
Hanyalah terjal bebait
Menghantar mereka
Terkulai bahagia
Pada penghujung baris
Yang tak kelihatan
Sajak-sajakku
Dengan begitu
Bukankah telah
Kita rampungkan
Sebagian tugas kita
Tugas kata–
Tugas pecinta?
2008
Mei 4, 2009 at 9:55 am. Permalink.
dermala membalas:
hue ,,
dpt dari mana tuh kata.kata.a ??
beuh ,,
hebat ..
tapi bnr ugha ,,
Mei 6, 2009 at 3:43 am. Permalink.
kiki membalas:
keren tuhh mba dilla
Agustus 30, 2009 at 12:10 am. Permalink.
mukhlis membalas:
Oke.. nice blog.. ayo terus ngeblog seru… semangat ya.. btw puisinya bagus sekali..
Maret 26, 2010 at 6:28 am. Permalink.